Masyarakat Kecanduan Kantong Plastik ! Yuk Kita Ubah

Masyarakat Kecanduan Kantong Plastik

Ups. Terdengar sangat heboh kalau disebut masyarakat Indonesia itu adalah masyarakat yang kecanduan kantong plastik. Sayangnya, kenyataan di lapangan dan dalam kehidupan sehari-hari, banyak tindakan dari orang Indonesia kalau mereka sulit lepas dari penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Belum lama ini, beberapa hari yang lalu sebelum tulisan ini diterbitkan, admin blog ini melihat sesuatu yang merupakan perwujudan dari kecanduan kantong plastik yang akut.

Ceritanya dimulai di sebuah minimarket yang berlokasi di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat dekat stasiun kereta Gondangdia. Nama minimarketnya Circle K.

Saat itu admin sedang hendak membeli kopi untuk persediaan di kantor. Kebetulan, di depan kasir sudah ada seorang pria, berusia antara 30-40 tahun dengan tas di punggung sedang melakukan transaksi. Ia membeli dua botol air mineral.

Yap, hanya dua botol saja. Tidak ada belanjaan lain.

Saat itu , seperti biasa kasir menawarkan apakah ia memerlukan kantong plastik atau tidak. Prosedur standar di minimarket yang tidak secara otomatis memberikan, tetapi akan menawarkan terlebih dahulu.

Mau tahu apa yang terjadi.

Sang pria itu mengatakan satu botol akan dia pegang untuk diminum langsung, tetapi ia meminta kantong plastik untuk botol yang lain.

Wow.

Langsung saja kepala menggeleng-geleng. Begitu rendahnya kah kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan. Tidak kah ia sadar bahwa plastik itu butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai dan mencemari lingkungan.

Padahal ia memiliki opsi lainnya yang lebih ramah lingkungan, seperti :

  1. Memegang botol saja sampai ke kantor, toh juga satu botol air mineral tidak lah terlalu berat
  2. Pilihan yang lebih bagus lagi adalah memasukkan satu botol air mineral itu ke dalam tas ranselnya, yang pastinya cukup menampung tambahan satu botol lagi

Tetapi, ia memutuskan untuk meminta kantong plastik yang ditawarkan.

Ia tidak peduli bahwa kantong plastik itu hanya dipakai sebentar saja sebelum kemudian dibuang, menjadi sampah, dan kemudian mencemari lingkungan. Maklum, di Indonesia belum ada pengelolaan sampah khusus sampah plastik.

Ia tidak peduli, meski ada opsi yang lebih baik yang tersedia. Tas ranselnya. Bukankah memang itu fungsi dari sebuah tas?

Dan, sayangnya, itu bukanlah kejadian pertama. Selama pulang pergi dari stasiun Godangdia ke kantor, sudah berulangkali kejadian yang sama terlihat. Tidak pria, tidak wanita, semua seperti mewajibkan para penjual memberikan kepada mereka kantong plastik.

Melihat yang seperti ini, tidak heran banyak masyarakat yang protes ketika beberapa kota secara tegas mengeluarkan peraturan yang melarang penyediaan kantong plastik sekali pakai kepada pembeli, seperti Bogor, Denpasar, dan beberapa kota lainnya.

Banyak anggota masyarakat yang protes dengan kebijakan itu karena menganggap kantong plastik itu adalah hak mereka dan harus diberikan secara gratis.

Padahal, sebenarnya tidak. Itu bukan hak mereka. Dulu, di tahun 1980-an, untuk mendapatkan sebuah kantong plastik, kita harus membeli. Kebiasaan berubah setelah berkembangnya kebiasaan berbelanja di supermarket, yang untuk menarik pembeli, mereka menyediakan kantong plastik secara “gratis”.

Jadilah, pembeli merasa itu hak mereka yang harus diberikan secara cuma-cuma kepada mereka. Padahal, sebenarnya mereka membayar. Yang lebih buruk lagi adalah ada yang harus membayar lebih mahal lagi, yaitu generasi di masa datang yang harus membayar dengan banyaknya pencemaran, tanah, air akibat plastik.

Belum ditambah dengan berbagai bencana akibat tumpukan sampah plastik yang dibuang sembarangan.

Nah, sebenarnya, masalah kecanduan kantong plastik ini bisa diubah. Tidak sulit caranya, tetapi ternyata menjadi sangat sulit karena harus mengubah kebiasaan.

Kita harus mau merubah kebiasaan dan pola pandang tentang cara kita membawa barang yang kita beli dari suatu tempat. Mungkin, harus meniru ibu-ibu di masa lalu, yaitu

  1. Memasukkannya ke dalam tas yang kita bawa kalau ukurannya tidak terlalu besar atau jumlahnya banyak
  2. Membawa tas belanja sendiri

Toh, belakangan ini, sudah banyak lahir berbagai jenis tas belanja dan dengan berbagai desain.

Tentu mereka harus membayar untuk itu, tetapi tas belanja bisa dipergunakan berulangkali, bahkan puluhan kali sebelum menjadi usang. Harga yang dibayar lunas kalau tas belanja itu dipergunakan terus menerus.

Meski terlihat mahal, tetapi sebenarnya hal itu memang harus dilakukan, jika kita tidak mau generasi mendatang yang akan merasakan akibat yang diakibatkan penggunaan kantong plastik yang berlebihan seperti sekarang ini.

Iya kan?

Jadi, yuk, kita kembangkan sebuah kebiasaan baru dalam berbelanja. Cobalah kita pikirkan sedikit tentang lingkungan kita. Kecanduan kantong plastik berdampak sangat buruk sekali bagi lingkungan dan pada akhirnya akan merugikan sendiri.

Caranya sederhana, bawalah tas belanja sendiri.

Masyarakat Kecanduan Kantong Plastik ! Yuk Kita Ubah

Dan, kalau hendak membeli tas belanja seperti ini, mungkin bisa mempertimbangkan Blacuk di dalamnya. Karena tas yang sebenarnya sederhana ini sangat multi guna dan bukan hanya bisa dipergunakan untuk membawa barang belanjaan saja, tetapi bisa dipergunakan untuk fungsi lainnya.

Juga, bisa dilipat loh dan dimasukkan ke dalam tas kalau tidak dipergunakan.

Tapi, kalau pilihan jenis tas belanja Anda berbeda, tidak masalah. Yang manapun akan lebih baik dibandingkan menggunakan kantong plastik sekali pakai.

Iya kan?

Konsep Sekali Pakai Sangat Tidak Ramah Lingkungan

Konsep Sekali Pakai Tidak Ramah Lingkungan

Benda-benda sekali pakai sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di masa sekarang. Sedotan sekali pakai, sendok sekali pakai, kantong plastik sekali pakai, dan bahkan ponsel sekali pakai sudah semakin digemari.

Praktis, murah, dan tidak perlu diurus..

Kata praktis merujuk pada kemudahan untuk didapat dimana saja. Seseorang tidak perlu mempersiapkan apa-apa saat bepergian. Cukup dengan membelinya ketika memerlukan saja.

Murah memang kata yang lekat dengan berbagai benda sekali . Karena tujuannya sekedar memenuhi satu fungsi saja, ketersediaannya memang membutuhkan harga yang murah agar bisa terjangkau oleh semua kalangan, dan juga menarik banyak orang untuk membelinya. Penjualnya mendapatkan untung sangat kecil kalau dihitung perbuah, tetapi sangat besar karena mencakup jumlah penjualan yang sangat besar pula.

Tidak merepotkan (pemakainya) memang tidak salah. Begitu fungsinya selesai dimanfaatkan, benda bekas pakainya tinggal dibuang saja. Tidak perlu tempat untuk menyimpan, tidak harus ada waktu untuk mengurus dan membersihkannya.

Sangat membantu dan berguna bagi manusia zaman sekarang yang merasa dirinya tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal kecil seperti itu. “Banyak hal besar lain yang lebih membutuhkan perhatian, setidaknya” begitulah pemikiran banyak orang.

Tetapi sayangnya, benda-benda yang dibuat menggunakan konsep sekali pakai itu pada akhirnya menghasilkan sebuah masalah tersendiri bagi manusia. Bukan generasi pemakainya saja yang bisa terkena dampaknya, tetapi generasi masa datang.

Masalah yang satu ini pun kemudian berkembang dan melahirkan masalah-masalah yang lain dan pada akhirnya merepotkan umat manusia sendiri.

Masalah itu ada dalam bentuk ‘SAMPAH.

Banyaknya pengguna barang sekali pakai pasti akan membuang benda-benda yang sudah mereka pakai. Bila hanya satu dua, maka hasilnya tidak berpengaruh banyak, tetapi yang memanfaatkan jenis barang seperti ini jumlahnya milyaran.

Iya, milyaran karena jumlah penduduk di bumi sudah mencapai 6 milyar orang lebih.

Bisa bayangkan berapa banyak tumpukan sampah di seluruh dunia yang dihasilkan oleh benda-benda yang dibuat dengan konsep sekali pakai? Tidak akan terhitung.

Kata sampah sendiri kemudian merembet dan berkembang dan menimbulkan masalah-masalah lain, seperti :

  1. Pencemaran : pernah melihat sendok plastik atau sedotan plastik bergeletakan di taman setelah acara kumpul-kumpul selesai? Jangan tanyakan botol/gelas plastik yang dilempar sembarangan setelah isinya habis diminum
  2. Kerusakan alam : plastik adalah benda yang sangat berguna, tetapi sayangnya, benda itu susah terurai secara organik atau alami yang biasa dilakukan bakteri pembusuk. Butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk hal itu terjadi, dan kalaupun sudah terjadi, hasilnya berupa materi atau zat yang merusak tanah, air, dan lingkungan
  3. Bencana : bukan sebuah hal aneh melihat tumpukan sampah plastik tersangkut dan menghalangi aliran air, baik di selokan dan di sungai. Hasilnya, air tergenang menyebabkan penyakit dan aliran sungai yang terhambat menyebabkan banjir.

Jumlah volume sampah yang dihasilkan di dunia meningkat akibat produksi dan pemakaian benda-benda sekali pakai yang tidak terkontrol.

Itulah mengapa banyak negara di dunia mulai menerapkan dan melahirkan hukum baru untuk membatasi penjualan dan pembatasan pemakaian benda-benda sekali pakai. Negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia pun bergabung untuk ikut serta dalam gerakan ini.

Bermula dari benda-benda kecil, seperti sedotan plastik sekali pakai, pengaduk kopi sekali pakai, dan tentunya kantung plastik.

Semua ditujukan untuk mengurangi volume sampah yang dhasilkan setiap harinya. Tujuannya juga untuk mengubah , atau lebih tepatnya mengembalikan kebiasaan manusia kembali ke awal, yaitu mempergunakan segala sesuatu dengan bijak dan efisien. Tidak menggampangkan.

Segala benda yang dibeli harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sampai habis usia pakainya.

Karena konsep sekali pakai pada dasarnya memang membahayakan umat manusia sendiri. Konsep ini sudah terlalu berlebihan pemanfaatannya sehingga berbalik menjadi bahaya tersendiri karena sangat tidak ramah lingkungan.

Dan, kita sebagai bagian umat manusia pun harus turut serta dalam gerakan ini. Kurangi pemakaian barang sekali pakai dan pergunakan benda apapun sampai habis masa pakainya.

Salah satu di antaranya adalah mengurangi pemakaian kantong plastik sekali pakai dengan tas belanja atau benda lain yang bisa dipergunakan berulangkali.

Dengan begitu, jumlah sampah plastik yang mengotori bumi diharapkan bisa berkurang.

Semakin banyak orang yang bersedia melakukan hal ini, semakin baik bagi lingkungan, dan tentunya umat manusia sendiri.

Apa Itu Blacu ?

Apa Itu Blacu

Apa Itu BLACU ?

Apa Itu Blacu

Nama BLACUK diambil dari kata “blacu”. Dan, memang tote bag Blacuk memakai bahan dasar dari blacu atau kain blacu.

Lalu, sebenarnya apa sih Blacu itu?

Blacu pada dasarnya adalah jenis kain tenun yang terbuat dari bahan dasar serat alami, yaitu katun atau kapas yang dalam bahasa Inggris disebut dengan cotton. Serat alami ini merupakan salah satu serat utama yang banyak dipergunakan dalam pembuatan pakaian manusia. Satu kelebihan utamanya adalah bisa terurai secara alami karena berasal dari tumbuhan.

Kain blacu sendiri mengacu pada satu jenis bahan yang dasarnya sama untuk pembuatan kain Batik. Ya, kain batik tangan membutuhkan kain mori yang juga sama terbuat dari katun.

Beda kedua jenis kain ini terletak pada proses yang sudah dilalui oleh baik blacu dan mori.

Kain Mori sudah melalui proses pemutihan atau yang kerap dikenal dengan bleaching sementara blacu tidak melalui proses ini.

Kain blacu sendiri memiliki satu ciri khas lainnya, yaitu agak kasar dibandingkan dengan kain pakaian pada umumnya. Meskipun demikian, bisa saja kain blacu memiliki tekstur yang lebih halus, hanya karena biasanya bukan ditargetkan untuk dibuat pakaian, kain blacu mempergunakan bahan yang lebih kasar. Meski, kualitas blacu sendiri ada banyak jenisnya dan berbeda-beda.

Blacu sendiri di masa lalu, dan mungkin saat ini masih dipergunakan untuk karung terigu dalam ukuran besar. Sifatnya yang rapat membuat butiran terigu yang kecil tidak bisa lewat dari celah anyaman

Nah, itulah sekilas tentang Blacu, bahan dasar dari BLACUK.