Konsep Sekali Pakai Sangat Tidak Ramah Lingkungan

Konsep Sekali Pakai Tidak Ramah Lingkungan

Benda-benda sekali pakai sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di masa sekarang. Sedotan sekali pakai, sendok sekali pakai, kantong plastik sekali pakai, dan bahkan ponsel sekali pakai sudah semakin digemari.

Praktis, murah, dan tidak perlu diurus..

Kata praktis merujuk pada kemudahan untuk didapat dimana saja. Seseorang tidak perlu mempersiapkan apa-apa saat bepergian. Cukup dengan membelinya ketika memerlukan saja.

Murah memang kata yang lekat dengan berbagai benda sekali . Karena tujuannya sekedar memenuhi satu fungsi saja, ketersediaannya memang membutuhkan harga yang murah agar bisa terjangkau oleh semua kalangan, dan juga menarik banyak orang untuk membelinya. Penjualnya mendapatkan untung sangat kecil kalau dihitung perbuah, tetapi sangat besar karena mencakup jumlah penjualan yang sangat besar pula.

Tidak merepotkan (pemakainya) memang tidak salah. Begitu fungsinya selesai dimanfaatkan, benda bekas pakainya tinggal dibuang saja. Tidak perlu tempat untuk menyimpan, tidak harus ada waktu untuk mengurus dan membersihkannya.

Sangat membantu dan berguna bagi manusia zaman sekarang yang merasa dirinya tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal kecil seperti itu. “Banyak hal besar lain yang lebih membutuhkan perhatian, setidaknya” begitulah pemikiran banyak orang.

Tetapi sayangnya, benda-benda yang dibuat menggunakan konsep sekali pakai itu pada akhirnya menghasilkan sebuah masalah tersendiri bagi manusia. Bukan generasi pemakainya saja yang bisa terkena dampaknya, tetapi generasi masa datang.

Masalah yang satu ini pun kemudian berkembang dan melahirkan masalah-masalah yang lain dan pada akhirnya merepotkan umat manusia sendiri.

Masalah itu ada dalam bentuk ‘SAMPAH.

Banyaknya pengguna barang sekali pakai pasti akan membuang benda-benda yang sudah mereka pakai. Bila hanya satu dua, maka hasilnya tidak berpengaruh banyak, tetapi yang memanfaatkan jenis barang seperti ini jumlahnya milyaran.

Iya, milyaran karena jumlah penduduk di bumi sudah mencapai 6 milyar orang lebih.

Bisa bayangkan berapa banyak tumpukan sampah di seluruh dunia yang dihasilkan oleh benda-benda yang dibuat dengan konsep sekali pakai? Tidak akan terhitung.

Kata sampah sendiri kemudian merembet dan berkembang dan menimbulkan masalah-masalah lain, seperti :

  1. Pencemaran : pernah melihat sendok plastik atau sedotan plastik bergeletakan di taman setelah acara kumpul-kumpul selesai? Jangan tanyakan botol/gelas plastik yang dilempar sembarangan setelah isinya habis diminum
  2. Kerusakan alam : plastik adalah benda yang sangat berguna, tetapi sayangnya, benda itu susah terurai secara organik atau alami yang biasa dilakukan bakteri pembusuk. Butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk hal itu terjadi, dan kalaupun sudah terjadi, hasilnya berupa materi atau zat yang merusak tanah, air, dan lingkungan
  3. Bencana : bukan sebuah hal aneh melihat tumpukan sampah plastik tersangkut dan menghalangi aliran air, baik di selokan dan di sungai. Hasilnya, air tergenang menyebabkan penyakit dan aliran sungai yang terhambat menyebabkan banjir.

Jumlah volume sampah yang dihasilkan di dunia meningkat akibat produksi dan pemakaian benda-benda sekali pakai yang tidak terkontrol.

Itulah mengapa banyak negara di dunia mulai menerapkan dan melahirkan hukum baru untuk membatasi penjualan dan pembatasan pemakaian benda-benda sekali pakai. Negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia pun bergabung untuk ikut serta dalam gerakan ini.

Bermula dari benda-benda kecil, seperti sedotan plastik sekali pakai, pengaduk kopi sekali pakai, dan tentunya kantung plastik.

Semua ditujukan untuk mengurangi volume sampah yang dhasilkan setiap harinya. Tujuannya juga untuk mengubah , atau lebih tepatnya mengembalikan kebiasaan manusia kembali ke awal, yaitu mempergunakan segala sesuatu dengan bijak dan efisien. Tidak menggampangkan.

Segala benda yang dibeli harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sampai habis usia pakainya.

Karena konsep sekali pakai pada dasarnya memang membahayakan umat manusia sendiri. Konsep ini sudah terlalu berlebihan pemanfaatannya sehingga berbalik menjadi bahaya tersendiri karena sangat tidak ramah lingkungan.

Dan, kita sebagai bagian umat manusia pun harus turut serta dalam gerakan ini. Kurangi pemakaian barang sekali pakai dan pergunakan benda apapun sampai habis masa pakainya.

Salah satu di antaranya adalah mengurangi pemakaian kantong plastik sekali pakai dengan tas belanja atau benda lain yang bisa dipergunakan berulangkali.

Dengan begitu, jumlah sampah plastik yang mengotori bumi diharapkan bisa berkurang.

Semakin banyak orang yang bersedia melakukan hal ini, semakin baik bagi lingkungan, dan tentunya umat manusia sendiri.